(Shanta Moyra Tambunan)

Hai Sobat Atourin! Kalian semua pasti doyan makan atau kulineran kan? Apalagi kalau makannya bersama-sama dengan teman atau keluarga. Makan bersama adalah sebuah kebiasaan atau tradisi yang sering dilakukan oleh setiap anggota keluarga di berbagai dunia. Begitu juga dengan tradisi dari Tanah Minang yang telah ada sejak ratusan tahun lalu, yakni makan bajamba. Makan bajamba merupakan tradisi makan yang dilakukan dengan cara duduk lesehan bersama-sama dalam sebuah ruangan atau tempat tertentu.

Sejarah

Makan bajamba yang juga disebut dengan makan barapak merupakan tradisi yang sudah ada sejak abad ke-7, bertepatan dengan awal masuknya Islam ke Minangkabau. Dipastikan tradisi ini berasal dari Kota Gadang, Agam, Sumatera Utara. Oleh karena itu, tradisi bajamba juga berkaitan dengan ajaran Islam. Tradisi ini mulai menyebar di kalangan masyarakat dan dilestarikan hingga saat ini.

Makna Bajamba

Acara makan bajamba dilakukan dalam beberapa kegiatan, seperti ulang tahun kota, menyambut tamu penting, acara keagamaan dan banyak lagi. Hal ini menimbulkan berbagai makna terselubung dari acara bajamba, seperti melatih diri untuk berbagi dalam sebuah kebersamaan, menghormati serta mendahulukan orang yang lebih tua dan memupuk tali silaturahmi. Saat duduk bersama kelompok, diharapkan mampu membaur dalam kebersamaan tanpa memandang status sosial masing-masing peserta.

Ilustrasi Tradisi Makan Bajamba

Rangkaian Acara

Sebelum makan bersama dimulai, terdapat rangkaian acara yang akan digelar oleh empunya rumah. Peserta yang hadir akan dipersilahkan untuk duduk secara lesehan berbentuk melingkar dan dibagi dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari 5 sampai 7 orang. Makanan tidak langsung dihidangkan kepada peserta, namun akan ada tradisi petatah petitih yakni saling berbalas pantun dengan bahasa Minang. Petatah petitih akan dilakukan oleh tuan rumah dan perwakilan peserta undangan dengan cara bersahut-sahutan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada undangan yang telah hadir. Setelah petatah petitih dilakukan, tuan rumah akan menghidangkan makanan kepada kelompok peserta. Makanan akan disajikan dalam bentuk satu dalung yang di dalamnya terdapat beberapa piring bertumpuk yang berisikan nasi serta berbagai jenis lauk dan sayur.

Aturan dan Tata Cara

Meskipun bajamba dilaksanakan dengan tanpa melihat status sosial, namun tradisi ini juga menjunjung tinggi sopan santun. Oleh karena itu, ketika hendak makan, yang lebih tua diutamakan untuk mengambil makanan dan ketika selesai makan, yang lebih tua diutamakan untuk mencuci tangan. Aturan selanjutnya adalah peserta yang bisa mengikuti acara bajamba yakni mereka yang sudah menikah. Setiap peserta diharapkan makan dengan tenang tanpa adanya rebutan. Meskipun Sobat Atourin sangat lapar pada saat acara berlangsung, namun diharapkan tetap makan secara perlahan. Posisi duduk harus tegak dan tidak membungkuk serta duduk berbentuk lingkaran. Posisi kaki bersimpuh (basimpuah) bagi perempuan dan bersila (baselo) bagi laki-laki. Karena makan bersama ini dilakukan dalam satu wadah, hal ini akan mempengaruhi posisi duduk yang sangat berdekatan. Oleh karena itu, dilarang bersendawa atau batuk. Namun jika mendesak, diharapkan menoleh ke belakang dan batuk lah dengan menutup mulut menggunakan punggung tangan.

Dikarenakan peserta yang mengikuti tradisi ini cukup banyak, maka wadah serta piring yang digunakan berukuran besar, seperti talam. Ukuran diameter piring-piring bisa mencapai 50 cm. Posisi makanan utama dan makanan penutup juga memiliki aturan tertentu yang harus diperhatikan. Saat makan, nasi sesuap diambil oleh tangan kanan dan ditambah sedikit lauk pauk, kemudian nasi dimasukkan ke mulut dengan cara dilempar dalam jarak yang dekat. Ketika tangan kanan menyuap nasi, tangan kiri berada di bawahnya untuk menghindari nasi jatuh ke dalam wadah dan untuk menghargai peserta lainnya. Jika ada nasi yang jatuh di tangan kiri, maka harus dipindahkan ke tangan kanan lalu dimasukkan dengan cara yang sama. Makanan yang ludes akan membuat tuan rumah merasa senang, oleh karena itu jangan sisakan makanan. Jika makanan tidak sesuai selera Sobat Atourin, janganlah membicarakannya ya untuk menjaga sopan santun. Setelah selesai makan, akan dilanjutkan lagi dengan melempar pantun antara peserta undangan dan tuan rumah yang berarti ucapan terima kasih atas hidangannya.

Ilustrasi Menu Makanan Tradisi Bajamba

Menu

Daerah Minangkabau mempunyai acara makan bajamba dengan gaya masing-masing. Untuk daerah Bukittinggi akan menggunakan ‘samba nan salapan’ yang berarti ada lauk khusus yang wajib yakni gulai ayam, rendang, asam padeh, gulai babat, kerupuk tunjuk baladi, terung cabe, perkedel dan ikan pang yang disusun sesuai urutan dan aturan tertentu. Setelah makan utama, akan dilanjutkan dengan pajamba parabuangan yang berarti menu makanan penutup. Menunya terdiri dari ketan yang ditambah sarikaya, inti (kue bola dengan kelapa di tengahnya), pinyaram, wajib, gelamai, kue dan pisang. Terdapat juga menu yang tidak boleh dimakan, yakni kapalo samba. Kapalo samba adalah rendang daging berukuran sangat besar. Bobot kapalo samba bisa mencapai lebih dari 1 kg dan dibiarkan utuh tanpa dipotong-potong. Kapalo samba merupakan menu istimewa atau raja lauk. Menu ini dihidangkan bukan untuk peserta undangan, namun ditaruh sebagai pajangan.

Menarik sekali ya tradisi ini! Apakah makan bajamba menggugah selera Sobat Atourin? Apakah kamu penasaran bagaimana sensasi makan bajamba? Kalau iya, kamu bisa agendakan jalan-jalan ke Sumatera Barat di waktu dimana tradisi ini dilakukan. Yuk ikuti media sosial Atourin atau kunjungi website Atourin untuk mengetahui fakta dan hal menarik pariwisata Indonesia lainnya!