(Azzahra Siti Nabila)

Subak bagi masyarakat Bali bukan hanya sekedar sistem irigasi, melainkan juga merupakan filosofi kehidupan bagi masyarakat Bali yang tercermin dari filosofi dalam agama Hindu yaitu Tri Hita Karana (tiga penyebab kebaikan) sebagai hubungan harmonis antara individu dengan parahyangan (Tuhan), pawongan (dunia manusia), dan palemahan (alam). Subak mampu bertahan selama satu abad lebih sampai saat ini karena masyarakatnya yang setia kepada tradisi leluhur. Pembagian air dilakukan secara adil, segala masalah dibicarakan bersama, bahkan sampai penetapan waktu tanam dan jenis padinya. Sanksi terhadap segala bentuk pelanggaran akan ditentukan sendiri oleh warga melalui upacara yang dilakukan di pura. Harmonisasi kehidupan inilah yang menjadi kunci lestarinya budaya Subak.

Sistem Pengairan Sawah di Bali

Karena terbilang masih asli dan sari dan menjunjung tinggi serta melestarikan aturan tradisional, Subak yang berlokasi di Jatiluwih, Tabanan, Bali yang pada tahun 1993 sudah menjadi desa wisata mendapatkan predikat sebagai warisan budaya tak benda dunia oleh UNESCO (United Nations of Educational, Scientific, and Cultural Organization) di Rusia pada 29 Juni 2012. Penetapan warisan budaya dunia ini disambut dengan rasa bangga oleh pemerintah dan seluruh masyarakat Indonesia.

Selain itu, hal yang menyebabkan Subak Jatiluwih dinobatkan sebagai warisan budaya dunia  ialah karena terbilang masih asri dibandingkan dengan subak di lokasi lainnya yang banyak dibatasi oleh taman beton. Jenis padi yang ditanam di Subak Jatiluwih adalah varietas lokal yakni padi bali merah, dan secara estetika pemandangan subak Jatiluwih juga terlihat indah. Penetapan subak sebagai warisan budaya dunia bertepatan dengan 40 tahun Konvensi Warisan Budaya Dunia.

Sawah Terasering di Bali yang Indah

Pengelolaan irigasi berdasarkan sistem subak, menggunakan bentang lahan dengan memanfaatkan aliran air secara alami. Sumber air yang digunakan biasanya didapatkan dari mata air di sekitar area sawah, memanfaatkan aliran sungai yang muncul karena adanya aliran gunung vulkanik. Dalam penerapannya, sistem subak sepenuhnya dilakukan oleh masyarakat dengan tanpa campur tangan pemerintah.Mengenai cara pengelolaan sistem subak, terdapat petugas khusus yang dikenal dengan nama kelian. Tugas kelian dalam sistem irigasi subak adalah melakukan pembagian air sehingga para petani bisa memperoleh asupan air secara adil. Tidak hanya itu, kelian juga punya tugas penting dalam menjaga hubungan sosial antara masing-masing pemilik lahan sawah. Perangkat-perangkat yang ada dalam subak adalah pekaseh (ketua subak), petajuh (wakil pekaseh), penyarikan (juru tulis), petengen (juru raksa), kasinoman (kurir), dan beberapa yang lainnya. Selain itu, dikenal adanya sub-kelompok yang terdiri dari 20-40 petani yang disebut munduk, yang diketuai oleh seorang pengliman.

Sawah Terasering Menjadi Obyek Wisata di Bali



Selain sistem strukturalnya, subak juga memiliki kekhasan dalam hal ritual upacara keagamaan yang berlangsung di dalamnya Ritual tersebut diantaranya ngendangin yang dilakukan saat pertama kali mencangkul, ngawiwit yang dilakukan saat petani menabur benih, mamula yang dilakukan saat menanam, neduh yang dilakukan saat padi berumur satu bulan agar tidak diserang penyakit, binkunkung yang dilakukan saat padi mulai berisi, nyangket yang dilakukan saat panen, dan manteni yang dilakukan ketika padi disimpan di lumbung. Serta beberapa ritual perkelompok yang dikenal dengan sebutan mapag toya, mecaru, dan ngusaba.

Bagaimana menarik bukan? Yuk Sobat Atourin kita sama-sama jaga dan rawat budaya di Indonesia, agar tetap lestari dan dapat dikenal hingga ke penjuru dunia!