Gambar Proyektor di Bioskop (unsplash.com)

Time to Read: 10 minutes

(Quraish S. Haddade)

Hi Sobat Atourin, tentu banyak dari kamu yang suka nonton film Indonesia kan?! Kira-kira film genre apa yang kamu suka? Pertanyaan lainnya mungkin adalah film apa yang menjadi favoritmu? Industri film Indonesia memang selalu terus berkembang dengan adanya inovasi dan terobosan dari mereka sineas-sineas perfilman nasional. Nah, terlepas dari genre yang kamu suka, yang bisa kamu lihat atau pahami adalah beberapa film nasional berlatar belakang berbagai destinasi indah dan eksotis Nusantara. Nah, ini nih beberapa film yang memperlihatkan indahnya Indonesia. 

Humba Dreams (2019), Director: Riri Riza

Gambar Pantai di Sumba (unsplash.com)

Menceritakan tentang Martin (J.S Khairen), seorang mahasiswa film yang menuntut ilmu di ibukota dan harus pulang untuk menjalankan kewajibannya sebagai salah satu anggota keluarga di Sumba. Dalam film ini Riri Riza mengajak kita untuk menemani Martin dalam mencari jati dirinya dan juga mengelilingi indahnya Pulau Sumba. Film ini juga memberikan kita sebagai penonton pesan nostalgik. Martin dalam mencari jati dirinya juga memperlihatkan bagaimana film pada zaman dulu dibuat yang sekarang secara digital. Banyaknya alat-alat perekam audio-visual kuno atau biasa kita sebut analog. Hal ini erat kaitannya dengan Martin yang sedang mencari ilmu tentang film. Menurut saya, hal ini adalah cara Riri Riza secara tidak langsung menceritakan Martin yang sedang bingung dengan dirinya sendiri sebagai masyarakat Sumba. Wejangan dari keluarganya menuntun Martin untuk mengenal dirinya sendiri.

Film ini sudah bisa disaksikan di platform streaming Netflix. Humba Dreams dengan motor kunonya menemani kita berkeliling dari Sumba Barat hingga Sumba Timur terutama Kota Waingapu yang ternyata jauh dari tempat tinggal Martin. Melalui pengambilan gambar yang luas dan landscape, Riri Riza benar-benar memperlihatkan indahnya Pulau Sumba. Bahkan bukan hanya itu saja, sang sutradara juga menempatkan cerita dari pagi hingga malam. Sehingga penonton bisa merasakan pulau Sumba melalui film tersebut. Memang dalam beberapa interview juga, Riri Riza sebagai sutradara dan Mira Lesmana sebagai produser, ingin sekali membuat film yang dekat dengan Sumba dan shooting di Sumba. Dengan Humba Dreams mereka berhasil membuat film tersebut. Di Indonesia sendiri, film ini sempat premiere di salah satu festival film di Jogja, yaitu Jogja Asian Film Festival atau JAFF.

Ada Apa dengan Cinta 2? (2016) Director: Riri Riza

Gambar Candi Ratu Boko di Yogyakarta (unsplash.com)

Riri Riza kembali hadir dengan karyanya  yang cukup terkenal pada masanya, kisah cinta antara Cinta dan Rangga. Riri Riza juga kembali hadir dengan perkenalan tentang daerah tempat shooting-nya, kali ini adalah Daerah Istimewa Yogyakarta. Setelah ratusan purnama berlalu, akhirnya tanpa disengaja Cinta kembali dipertemukan Rangga di daerah yang istimewa. Cinta yang sedang berlibur dan Rangga yang baru pulang dari Amerika. Film ini benar-benar menjadi saksi mereka dipertemukan kembali. Cinta yang akan menikah, dalam satu hari satu malam, Rangga dapat membuat Cinta kembali seperti masa SMA.

Dengan menyewa mobil Jeep, Rangga mengajak Cinta keliling kota Yogyakarta. Rangga membawa Cinta ke sebuah tempat yang luas dipenuhi oleh reruntuhan bangunan. Tempat tersebut jarang sekali dikunjungi oleh wisatawan sebelum AADC, shooting di sana. Tempat tersebut adalah Istana Ratu Boko. Menikmati matahari tenggelam dengan obrolan berat sangat cocok untuk dikunjungi oleh orang tersayang. Kemudian makan sate klathak Pak Bari. Sate klathak memang terkenal di Jogja, namun yang membawa sensasi beda adalah karena makan di dalam bangunan yang terlihat tua. Seperti anak remaja, tidak lengkap jika tidak ke tempat kopi. Kali ini Cinta yang mengajak Rangga ngopi di Klinik Kopi hingga larut malam.

Tidak ingin mengakhiri pertemuan mereka yang sudah ditunggu bertahun-tahun, akhirnya Rangga mengajak Cinta ke Gereja Ayam. Gereja ini tidak jauh dari Punthuk Setumbu. Gereja Ayam terkenal dengan mereka yang ingin melihat matahari terbit. Rangga kembali mengambil hati Cinta, dari matahari tenggelam hingga matahari terbit dengan memaksimalkan kota yang penuh cerita, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Laskar Pelangi (2008) Director: Riri Riza

Gambar Pemandangan Pulau Belitung (unsplash.com)

Novel dan cerita dari Andrea Hirata berhasil divisualkan dengan indah dan tepat sasaran oleh Riri Riza. Dengan latar belakang di Pulau Belitong dan menceritakan tentang anak-anak yang ingin menuntut ilmu tapi terhalang dengan kondisi seperti kemiskinan dan sekolah yang tidak memadai. Riri Riza memang terkenal dalam filmnya yang selalu memperlihatkan lokasi yang dijadikan latar belakang. Terbukti setelah Laskar Pelangi tayang di bioskop, Pulau Belitung yang indah ini banyak dikunjungi wisatawan. Pulau yang benar-benar dikelilingi oleh lautan ini, sehingga banyak pantai, dan setiap dari pantai itu memiliki keunikan masing-masing. Pantai yang paling terkenal adalah Pantai Tanjung Tinggi yang memiliki bebatuan yang tinggi-tinggi dan dijadikan tempat bermain oleh pemain di film Laskar Pelangi. Bahkan sekolah yang dijadikan lokasi shooting menjadi destinasi wisata.

Aruna dan Lidahnya (2018) Director: Edwin

Gambar Jembatan Suramadu di Surabaya (pixabay.com)

Seperti judulnya, kita sebagai penonton dibuat bertanya-tanya tentang lidahnya Aruna yang tidak kunjung terpuaskan. Aruna (Dian Sastro) berkeliling Indonesia karena harus ada riset tentang pekerjaannya, tetapi di lain sisi dengan Bono (Nicholas Saputra) yang bertujuan untuk kulineran. Aruna mencari resep nasi goreng yang selalu ia makan ketika kecil dimasakin oleh mboknya. Edwin benar-benar memaksimalkan bukan hanya kuliner dari kota yang dikunjungi, tetapi juga keindahan kota tersebut.

Pertama menuju ke Jawa Timur, Surabaya. Aruna dan Bono mencicipi rawon dan soto Lamongan. Selain mencicipi makanan khas Jawa Timur ini seperti rujak soto, Edwin sebagai sutradara juga memperlihatkan indahnya jembatan Suramadu. Kemudian menyeberang ke Pulau Kalimantan. Makan di Pondok Pengkang dan menikmati matahari terbenam di Pantai Pasir Panjang. Menurut penulis, yang paling menarik adalah ketika di Singkawang. Aruna dengan bingungnya mengunjungi Rumah Sejarah Marga Tjhia dan Jalan Sejahtera. Kemudian memakan Choi Pan dan Mie Loncat Singkawang. Perjalanan diakhiri dengan Aruna yang memakan nasi goreng Pontianak. Edwin benar-benar mengajak penonton ke dalam kebingungan Aruna dalam kisah cintanya dan juga kisah lidahnya.

5 CM (2012) Director: Rizal Mantovani

Gambar Gunung Semeru di Jawa Timur (unsplash.com)

Terakhir adalah film 5 CM. Film tentang sekelompok teman yang mendaki Gunung Semeru. Film ini memperlihatkan betapa banyaknya cerita ketika mendaki. Keindahan Gunung Semeru, dari tempat untuk camping, jalur pendakian, hingga puncaknya benar-benar tergambarkan dengan indah. Tentang pertemanan menjadi pemanis dalam indahnya Gunung Semeru. Dengan berbagai kepribadian yang berbeda-beda mereka mempunyai satu ambisi yang sama, yaitu mengibarkan bendera merah putih di puncak Gunung Semeru. Film ini benar-benar magis.

Nah menarik kan, ternyata film-film di atas dan juga banyak film nasional lainnya yang secara langsung atau tidak langsung ikut mempromosikan keberadaan pariwisata dimana lokasi latar film tersebut. Kamu kira-kira ingin mengunjungi mana? Pulau Sumba, Surabaya, Singkawang, Pontianak, DI Yogyakarta, Pulau Belitong atau Gunung Semeru?

Kamu juga bisa menemukan banyak informasi dan inspirasi jalan-jalan yang menarik di berbagai daerah di Indonesia dan informasi pariwisata lainnya, tentunya hanya di website dan medsos Atourin!