Tari Tortor Adat Batak
Tari Tortor Adat Batak. Foto: Maulana Image/Shutterstock.com

Indonesia memiliki keberagaman budaya yang menjadi landasan hidup masyarakat. Kebudayaan selalu dijunjung tinggi sehingga menciptakan cerminan karakter yang khas dari suatu suku. Kearifan lokal yang diwariskan nenek moyang merupakan harta yang harus dijaga dan dilestarikan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2020, Indonesia memiliki 1.340 suku dengan karakter dan bahasa berbeda yang tersebar di seluruh penjuru Nusantara. 

Salah satu suku di Indonesia yang tak pernah kehabisan cerita menarik untuk diulik adalah suku Batak Toba di Sumatera Utara. Suku yang mendiami wilayah sekitar Danau Toba ini sangat piawai melestarikan budaya dan adat istiadatnya hingga terkenal di kancah Internasional, Sobat Atourin! Karena telah lama menjadi salah satu destinasi wisata unggulan Indonesia, pengelolaan desa di tepi Danau Toba selalu menjadi prioritas bagi pemerintah daerah. Oleh karena itu, berwisata ke Danau Toba sudah pasti nyaman dan menyenangkan!

Sobat Atourin tahu tidak kalau Danau Toba memiliki pulau kecil yang berada di tengah danaunya? Ya, saking besarnya Danau Toba, Pulau Samosir yang berada di tengah danau luasnya kira-kira sebesar Singapura, lho! Nah, kalau berkunjung ke Pulau Samosir, Sobat Atourin juga harus mengunjungi Desa Tomok. Berikut adalah hal-hal yang perlu diketahui seputar desa tradisional yang unik ini!

Pintu Gerbang Menuju Pulau Samosir

Kapal penumpang di Dermaga Tomok
Kapal penumpang di Dermaga Tomok Foto: elrasier/Shutterstock.com

Desa Tomok kerap disebut sebagai “Gerbang Wisata Pulau Samosir” karena desa ini terletak di tepi dermaga penghubung Pulau Samosir dengan Parapat. Waktu tempuh kapal feri dari Parapat ke Tomok hanya sekitar 30 menit dengan biaya angkut sebesar Rp120.000 untuk 1 mobil. Jika tidak membawa kendaraan sendiri, Sobat Atourin dapat membayar Rp15.000 per orang untuk menyeberang dengan kapal penumpang umum. 

Kearifan Budaya Lokal

Wisatawan yang menari Tor-Tor di Tomok
Wisatawan yang menari Tor-Tor di Tomok Foto: Ilham Nasbir Saini/Shutterstock.com

Sebagai desa pertama yang akan dikunjungi saat masuk  ke Pulau Samosir, masyarakat Batak Toba di Desa Tomok akan dengan bangga menunjukkan budayanya kepada wisatawan. Salah satunya adalah dengan menampilkan Tari Tor-Tor. Tarian yang sudah ada sejak zaman nenek moyang ini adalah sarana komunikasi batin kepada roh leluhur maupun kepada tamu sebagai perwujudan rasa hormat. Tari Tor-Tor umum ditampilkan di wilayah Batak Toba, termasuk di Huta (Kampung) Batak Tomok.

Tak hanya menyaksikan keseruan penampilan Tari Tor-Tor, penduduk desa juga bisa mengajarkan Sobat Atourin untuk menari,. lho! Sobat Atourin perlu memakai ulos Batak Toba saat menari. Tak perlu cemas jika tidak punya, karena ulos ini akan disediakan bagi para pengunjung yang ingin menari dan belajar budaya Batak. 

Sobat Atourin juga bisa melihat patung Sigalegale pada pementasan Tari Tortor yang diiringi alunan alat musik gondang khas Batak. Selama musik diputar dan pengunjung menari, patung Sigalegale juga akan ikut menari dengan cara digerakkan oleh penduduk desa. Dahulu, patung Sigale-gale ini dipercaya dapat menari sendiri dengan kekuatan roh yang dipanggil oleh kepala suku.

Makam Purba Raja Sidabutar

Makam Raja Sidabutar di Tomok
Makam Raja Sidabutar di Tomok Foto: Sigit Adhi Wibowo/Shutterstock.com

Apakah yang membuat Desa Tomok berbeda dengan desa lainnya di Samosir? Desa Tomok merupakan asal-muasal atau kampung halaman dari orang-orang bermarga Sidabutar di Danau Toba. Di Desa Tomok, Sobat Atourin masih dapat menemukan sebuah sarkofagus atau makam kuno berumur 460 tahun. Tak sembarangan, makam ini adalah makam Raja Sidabutar yang dipercaya sebagai orang pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Samosir.

Makam peninggalan zaman megalitikum ini terbuat dari batu dan dipahat dengan tangan manusia. Uniknya, makam ini diletakkan di atas tanah dan pada sisi depan sarkofagus terukir wajah Raja Sidabutar. Selain itu, pinggiran makam juga diberi hiasan warna merah, hitam, dan putih. Kombinasi warna tersebut merupakan warna khas suku Batak yang melambangkan keberanian, kepemimpinan, dan kesucian. 

Saat berkunjung ke makam ini, Sobat Atourin harus menggunakan ulos yang sudah disediakan di pintu masuk kompleks makam Raja Sidabutar. Sama halnya seperti mengunjungi tempat keramat lainnya, saat mengunjungi makam Raja Sidabutar, Sobat Atourin harus menjaga sopan santun dan menghormati adat-istiadat suku setempat. 

Rumah Adat di Museum Batak Tomok

Museum Batak di Desa Tomok
Museum Batak di Desa Tomok. Foto: Khlongwangchao/Shutterstock.com

Selain itu, saat berada di Desa Tomok, Sobat Atourin juga dapat mengunjungi Museum Batak Tomok yang berada di dekat makam Raja Sidabutar. Museum berbentuk rumah adat Batak yang disebut Rumah Bolon ini menyimpan koleksi peninggalan nenek moyang berupa peralatan perang, alat rumah tangga, alat berburu, topeng kayu, patung kayu, alat tenun, kain ulos dengan bermacam-macam motif, buku dengan aksara Batak, tongkat, dan berbagai benda peninggalan lainnya.

Untuk kenang-kenangan kunjungan ke Desa Tomok, Sobat Atourin dapat berbelanja cendera mata seperti gantungan kunci, hiasan kepala sortali, dan kerajinan khas Batak Toba lainnya di toko suvenir yang berada di depan dermaga Tomok. 

Berkeliling Pulau Samosir rasanya tak cukup satu hari saja. Jika Sobat Atourin berencana untuk berlibur lebih lama di sana, kamu bisa bermalam di salah satu penginapan di Desa Tuk-Tuk. Ingin merasakan pengalaman menginap di penginapan dengan nuansa khas rumah Bolon Batak Toba? Bisa! Cobalah menginap di Hotel Mas Cottages. Ingin penginapan yang menghadap langsung ke Danau Toba? Samosir Villa Resort siap menyambut Sobat Atourin. Tunggu apalagi? Yuk, cek penerbangan ke Bandara Kualanamu Medan atau Bandara Silangit Siborong-borong melalui situs atau app Wego sekarang!