Festival Payung Indonesia (FESPIN) XIII 2026 kembali digelar di Taman Balekambang, Solo, pada 4–6 September 2026. Mengusung tema “Catra Padi – Sepayung Dewi Sri”, festival ini menghadirkan berbagai pertunjukan seni, karya payung tradisi dan kontemporer, workshop, hingga ruang pertukaran pengetahuan yang mempertemukan pelaku budaya dari berbagai daerah dan negara.

Di tengah perhelatan tersebut, Atourin turut berkolaborasi dengan Festival Payung Indonesia melalui pemanfaatan teknologi untuk mendukung pengelolaan event.

Menghitung Pengunjung dengan Teknologi People Counting

Dalam penyelenggaraan FESPIN XIII 2026, Atourin membawa CCTV dengan teknologi People Counting yang digunakan untuk membantu menghitung jumlah pengunjung selama event berlangsung.

Teknologi ini memungkinkan data jumlah pengunjung dikumpulkan secara lebih terukur melalui sistem analitik pada kamera. Data tersebut dapat memberikan gambaran mengenai jumlah pengunjung yang hadir di area festival dan menjadi salah satu bahan evaluasi bagi penyelenggara.

Pemanfaatan teknologi ini juga menjadi bagian dari langkah Atourin dalam mendorong data-driven event management, di mana data pengunjung dapat dimanfaatkan untuk memahami skala dan dinamika sebuah event secara lebih akurat.

Bagi Atourin, kehadiran teknologi dalam festival bukan hanya mengenai digitalisasi, tetapi juga bagaimana teknologi dapat membantu penyelenggara mendapatkan insight yang dapat digunakan untuk pengembangan event di masa mendatang.

Atourin Berbagi Perspektif di Festival Futures Forum

Tidak hanya menghadirkan teknologi, kolaborasi Atourin dengan Festival Payung Indonesia juga hadir melalui pertukaran pengetahuan.

Reza Permadi, Chief Operating Officer Atourin, menjadi salah satu narasumber dalam Festival Knowledge Exchange: Culture, Diplomacy & Green Innovation “Dari Festival Lokal Menuju Dampak Global”, bagian dari rangkaian Festival Futures Forum 2026.

Forum ini menjadi ruang diskusi bagi para pelaku festival, pemerintah daerah, dan industri untuk berbagi pengalaman mengenai pengembangan festival, diplomasi budaya, serta penerapan inovasi hijau.

Dalam forum tersebut, Reza Permadi hadir bersama sejumlah narasumber dari berbagai sektor, yaitu Boyke Urif Hermawan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tangerang; Nuzrul Irwan Irawan, Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung; Haikal Aulia Rahman, CEO Auliacorp; serta Heru Mataya, Founder Festival Payung Indonesia.

Kehadiran berbagai perspektif tersebut memperlihatkan bagaimana festival dapat menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, komunitas, dan teknologi untuk menciptakan dampak yang lebih luas.

Dari Data Pengunjung hingga Inovasi Hijau

Kolaborasi Atourin di Festival Payung Indonesia 2026 menjadi salah satu bentuk pemanfaatan teknologi dalam mendukung ekosistem event Indonesia.

Melalui People Counting, data pengunjung dapat menjadi bagian dari evaluasi penyelenggaraan festival. Sementara melalui Festival Futures Forum, Atourin turut mengambil bagian dalam diskusi mengenai bagaimana teknologi dan inovasi dapat berjalan bersama dengan budaya serta prinsip keberlanjutan.

Festival Payung Indonesia sendiri telah berkembang menjadi ruang pertemuan budaya yang tidak hanya menghadirkan karya seni, tetapi juga mempertemukan seniman, komunitas, pelaku ekonomi kreatif, pemerintah, dan berbagai mitra dari dalam maupun luar negeri. Pada FESPIN XIII 2026, sekitar 3.000 seniman, perajin, dan artisan dari 150 grup seni turut terlibat, dengan partisipasi dari sejumlah negara seperti Thailand, Jepang, Korea Selatan, India, dan Pakistan.

Bagi Atourin, kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya untuk terus menghadirkan teknologi yang relevan bagi pengembangan pariwisata dan event, sekaligus membuka ruang kolaborasi lintas sektor untuk mendorong festival Indonesia berkembang dengan dukungan data, inovasi, dan keberlanjutan.