(Hasna Nurul Izzah)

Wayang merupakan seni tradisional asli Indonesia yang berkembang awalnyaterutama di daerah Jawa Tengah,  dan Jawa Timur, dan Yogyakarta. Kemudian juga berkembang ke berbagai daerah lain di Indonesia. Secara umum, pertunjukan wayang mengambil cerita dari naskah Mahabharata dan Ramayana, tetapi tak dibatasi hanya dengan standar tersebutnamun juga berkembang cerita lain seperti cerita Panji bahkan wayang modern menggunakan cerita kehidupan sehari-hari. Bagian terpenting dalam seni pewayangan ialah aspek seni sastranya yang mengambil sumber dari histori-mitologi India. Kisah wayang yang bersumber dari India itu dalam kebudayaan Jawa berkembang dengan caranya sendiri, disesuaikan dengan kebutuhan dan kebudayaan setempat. Faktor yang membedakan di antara keduanya, antara lain adalah adanya tokoh punakawan (pelayan) dari keluarga Semar (dengan anak-anaknya yang bernama: Petruk, Nala Gareng, Bagong, dan istrinya Dewi Sutiragen) dalam wayang Jawa. Beberapa cerita juga diambil dari cerita Panji, maupun kisah Rohani dari agama Islam, Kristen, Hindu, dan Budha.

Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang, dengan diiringi oleh musik gamelan yang dimainkan sekelompok pemain gamelan yang disebut nayaga dan tembang yang dinyanyikan oleh para pesinden. Di Indonesia sendiri, ada dua jenis wayang yang dimainkan, yakni wayang kulit dan wayang golek. Wayang kulit lebih populer di Jawa bagian tengah dan timur, sedangkan wayang golek lebih sering dimainkan di Jawa Barat. Konon wayang kulit merupakan perkembangan dari cikal bakal wayang di era zaman Majapahit yaitu wayang beber. Disebut beber karena berupa gambar tokoh pewayangan di atas lembaran kertas atau kain, yang kemudian dibentangkan. Pertunjukan wayang kulit telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).

Untuk pembuatannya, wayang kulit dibuat dari bahan kulit sapi yang sudah diproses menjadi kulit lembaran. Per buah wayang membutuhkan sekitar ukuran 50 x 30 cm kulit lembaran yang kemudian dipahat dengan peralatan yang digunakan adalah besi berujung runcing berbahan dari baja yang berkualitas baik. Besi baja ini dibuat terlebih dahulu dalam berbagai bentuk dan ukuran, ada yang runcing, pipih, kecil, besar dan bentuk lainnya yang masing-masing mempunyai fungsinya berbeda-beda. Namun pada dasarnya, untuk menata atau membuat berbagai bentuk lubang ukiran yang sengaja dibuat hingga berlubang. Selanjutnya dilakukan pemasangan bagian-bagian tubuh seperti tangan, pada tangan ada dua sambungan, lengan bagian atas dan siku, cara menyambungnya dengan sekrup kecil yang terbuat dari tanduk kerbau atau sapi.

Pertunjukan Wayang Kulit

Bagian terpenting dalam pertunjukan wayang kulit adalah Dalang. Dalam terminologi bahasa Jawa, dalang (halang) berasal dari akronim ngudhal piwulangNgudhal artinya membongkar atau menyebar luaskan dan piwulang artinya ajaran, pendidikan, ilmu, informasi. Jadi keberadaan dalang dalam pertunjukan wayang kulit bukan saja pada aspek tontonan (hiburan) semata, tetapi juga tuntunan. Oleh karena itu, disamping menguasai teknik pedalangan sebagai aspek hiburan, dalang haruslah seorang yang berpengetahuan luas dan mampu memberikan pengaruh baik pada permainan tersebut. Dalang-dalang wayang kulit Indonesia yang mencapai puncak kejayaan dan melegenda antara lain : almarhum Ki Tristuti Rachmadi (Solo), almarhum Ki Narto Sabdo (Semarang, gaya Solo), almarhum Ki Surono (Banjarnegara, gaya Banyumas), almarhum Ki Timbul Hadi Prayitno (Yogyakarta), almarhum Ki Hadi Sugito (Kulonprogo, Yogyakarta), Ki Soeparman (gaya Yogyakarta), Ki Anom Suroto (gaya Solo), almarhum Ki Manteb Soedharsono (gaya Solo), Ki Enthus Susmono, Ki Agus Wiranto, almarhum Ki Suleman (gaya Jawa Timur), almarhum Ki Sugino Siswocarito (gaya Banyumas). Sedangkan pesinden yang legendaris adalah almarhumah Nyi Tjondrolukito.

Wayang Golek Khas Sunda

Pertunjukan wayang tidak hanya menjadi tontonan tapi juga tuntutan. Banyak nilai atau norma sosial yang diajarkan atau disampaikan ketika pertunjukan berlangsung. Nilai tersebut antara lain semangat perjuangan, semangat mengabdi, kesetiakawanan, penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, anti keserakahan, dan masih banyak lagi. Sudah sewajarnya jika wayang kulit dan wayang lainnya tetap dilestarikan di Indonesia. Nilai-nilai dalam wayang perlu terus disebarkan dari generasi ke generasi. 

Nah, Sobat Atourin juga bisa mendapatkan banyak inspirasi seni dan budaya lainnya di website dan media sosial Atourin tentunya.

Sumber :

https://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_kulit

http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Cerita_Wayang