Purwakarta, 16 September 2026 — Atourin bersama Bank Indonesia memperkuat pengembangan Pariwisata Ramah Muslim (PRM) di Jawa Barat melalui pelatihan peningkatan kapasitas pengelola desa wisata. Kegiatan yang berlangsung pada 15–16 September 2026 di Kampung Wisata Parakanceuri, Kabupaten Purwakarta, ini berfokus pada pengembangan konten visual dan strategi pemasaran digital untuk meningkatkan daya tarik serta jangkauan pemasaran desa wisata.
Pelatihan ini merupakan bagian dari Program Penguatan Pariwisata Ramah Muslim Tahun 2026 yang diinisiasi oleh Kementerian Pariwisata dan Bank Indonesia. Program tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas pengelola desa wisata dalam mengembangkan produk, layanan, tata kelola, dan pemasaran destinasi sesuai prinsip Pariwisata Ramah Muslim.
Pengembangan Desa Wisata Ramah Muslim di Lima Provinsi

Program penguatan desa wisata ramah Muslim sebelumnya diawali dengan Bootcamp Peningkatan Kapasitas Desa Wisata Unggulan Ramah Muslim pada 5–7 Agustus 2026 di Bandung. Dari proses kurasi terhadap 63 desa wisata potensial, sebanyak 25 desa wisata dari Aceh, Sumatra Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Barat terpilih untuk mengikuti program tersebut.
Program kemudian dilanjutkan dengan proses kurasi lanjutan untuk memilih 15 desa wisata terbaik yang memperoleh pendampingan lebih spesifik. Pendampingan ini mencakup pengembangan produk wisata berbasis potensi lokal, penyusunan pengalaman wisata, serta penerapan strategi pemasaran yang lebih efektif dan berbasis data.
Di Jawa Barat, tiga destinasi yang menjadi bagian dari program ini adalah Desa Wisata Selamanik di Kabupaten Ciamis, Desa Wisata Kaduela di Kabupaten Kuningan, dan Kampung Wisata Parakanceuri di Kabupaten Purwakarta.
Pelatihan Fotografi, Videografi, dan Pemasaran Digital Desa Wisata

Pelatihan selama dua hari di Kampung Wisata Parakanceuri berfokus pada peningkatan kemampuan pengelola desa wisata dalam mengemas dan memasarkan potensi destinasi melalui kanal digital. Dua materi utama yang diberikan adalah Smartphone Fotografi dan Videografi serta Pemasaran Digital Produk Pariwisata Ramah Muslim.
Materi Smartphone Fotografi dan Videografi disampaikan oleh Barry Kusuma, fotografer dan videografer profesional dengan pengalaman 23 tahun. Melalui materi ini, peserta mendapatkan pembekalan untuk menghasilkan konten visual yang menarik dan komunikatif dalam menampilkan daya tarik, pengalaman wisata, serta potensi lokal desa wisata.
Sementara itu, materi Pemasaran Digital disampaikan oleh Putri Nur Aisyah, Digital Marketing Specialist Atourin. Peserta mempelajari strategi pemanfaatan kanal digital untuk memperkenalkan produk Pariwisata Ramah Muslim, membangun daya tarik destinasi, serta menjangkau calon wisatawan secara lebih luas.
Penguasaan fotografi, videografi, dan pemasaran digital menjadi aspek penting dalam promosi desa wisata. Konten visual yang berkualitas dan strategi pemasaran yang tepat dapat membantu pengelola memperkenalkan keunikan destinasi, mengomunikasikan nilai produk wisata, serta meningkatkan peluang menjangkau pasar yang lebih luas.
Strategi Pemasaran untuk Memperluas Jangkauan Produk Wisata
Selain pelatihan, program penguatan desa wisata ramah Muslim juga mencakup pendampingan untuk menyusun dan menyempurnakan paket wisata berbasis potensi lokal. Pengelola desa wisata didorong untuk mengembangkan produk dan pengalaman wisata yang memiliki daya tarik serta strategi pemasaran yang sesuai dengan target wisatawan.
Penguatan strategi pemasaran juga membuka peluang bagi produk dan paket wisata terbaik untuk dipasarkan melalui platform online travel agent (OTA) maupun biro perjalanan daring. Dengan demikian, desa wisata diharapkan tidak hanya mampu mengembangkan produk unggulan, tetapi juga meningkatkan akses pasar melalui pemanfaatan ekosistem digital.
Pariwisata Ramah Muslim untuk Meningkatkan Kualitas Pengalaman Wisata
Pariwisata Ramah Muslim tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan wisatawan Muslim, tetapi juga mendorong peningkatan kualitas layanan dan pengalaman wisatawan dengan tetap mempertahankan budaya, kearifan lokal, serta karakter setiap destinasi.
Pendekatan ini menjadi salah satu upaya untuk mengembangkan pariwisata Indonesia yang berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan. Bagi desa wisata, pengembangan Pariwisata Ramah Muslim dapat menjadi peluang untuk memperkuat identitas destinasi sekaligus meningkatkan kualitas produk dan layanan sesuai kebutuhan wisatawan.
Atourin dan Bank Indonesia Dorong Daya Saing Desa Wisata Jawa Barat
Melalui pelatihan dan pendampingan ini, Atourin dan Bank Indonesia berharap Desa Wisata Selamanik, Desa Wisata Kaduela, dan Kampung Wisata Parakanceuri dapat semakin mengoptimalkan potensi masing-masing. Penguatan kemampuan dalam menghasilkan konten visual berkualitas dan menerapkan pemasaran digital diharapkan membantu ketiga desa wisata meningkatkan promosi serta memperluas jangkauan calon wisatawan.
Ke depannya, penguatan kapasitas tersebut diharapkan dapat mendukung kesiapan ketiga destinasi dalam mengembangkan produk dan layanan sesuai prinsip Pariwisata Ramah Muslim, sekaligus memperkuat posisi desa wisata unggulan ramah Muslim di Jawa Barat.