Bulan Ramadan merupakan bulan yang paling ditunggu-tunggu oleh umat Islam di penjuru Nusantara. Pada bulan yang suci ini, seluruh masyarakat yang beragama muslim di seluruh dunia akan melaksanakan ibadah puasa secara serentak selama 30 hari. Tentunya ketika bulan yang spesial ini harus berakhir, banyak cara dilakukan oleh umat Muslim untuk mempersiapkan diri mereka dalam memasuki bulan Syawal serta merayakan Idulfitri, salah satunya adalah dengan menggelar Malam Takbiran.

Berkat keberagaman suku dan budaya di Indonesia, tiap daerah memiliki keunikan masing-masing dalam perayaan Malam Takbiran. Penasaran seunik apa tradisi-tradisi Malam Takbiran di berbagai daerah? Simak rangkuman lima tradisi unik Malam Takbiran yang ada di Indonesia!

Grebeg Syawal, Yogyakarta

Suasana Grebeg Syawal di Yogyakarta. Foto: kompas.com

Tradisi yang digelar tepat pada tanggal 1 Syawal atau bersamaan dengan Hari Raya Idulfitri ini merupakan sebuah tradisi yang digelar secara turun-temurun di sekitar wilayah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Selama merayakan Grebeg Syawal, prajurit Keraton akan membawa tujuh buah Gunungan berisi hasil bumi yang nantinya akan dibagikan kepada masyarakat.

Tujuh Gunungan tersebut akan dilepas untuk diperebutkan oleh masyarakat di Alun-Alun Utara. Tradisi yang merupakan akulturasi dari tradisi budaya dan tradisi para leluhur ini memiliki makna bahwa hasil bumi memberikan keberkahan serta manfaat bagi banyak orang dan merupakan wujud kedermawanan sultan kepada rakyatnya. 

Meriam Karbit, Pontianak

Meriam raksasa yang dinyalakan dalam perayaan Meriam Karbit. Foto: ANTARA/HO-Aspri

Tak hanya di Pulau Jawa, semarak Malam Takbiran juga dirayakan di Pontianak, Kalimantan Barat. Tradisi yang telah dilakukan sejak lama dan diselenggarakan dalam bentuk festival ini digelar di sepanjang Sungai Kapuas serta dihadiri oleh masyarakat Pontianak secara berbondong-bondong. Tradisi Meriam Karbit awalnya dilakukan dengan menyulut meriam-meriam raksasa pada malam sebelum datangnya Idulfitri, namun peraturan daerah terbaru menghimbau perayaan ini untuk dilakukan tiga hari sebelum dan tiga hari sesudah Idulfitri.

Meriam-meriam yang dinyalakan pada Festival Meriam Karbit memiliki panjang sekitar empat sampai tujuh meter dan terbuat dari kayu meranti. Berat dari tiap meriam dapat mencapai 500 kilogram dan dihias dengan berbagai warna dan corak yang menarik. Sebanyak 150 meriam dinyalakan pada festival Meriam Karbit — menghasilkan suara yang lantang dan tak jarang mengundang rasa penasaran warga untuk ikut berpartisipasi dalam festival.

Ronjok Sayak, Bengkulu

Tradisi Ronjok Sayak di Bengkulu. Foto: akurat.co

Tradisi yang dirayakan pada malam ke-27 pada bulan Ramadan ini merupakan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat suku Serawai di Bengkulu. Dalam pelaksanaannya, tradisi ini digelar dengan cara menyusun batok kelapa secara menggunung layaknya sebuah sate, lalu dibakar bersama-sama.

Membakar batok kelapa yang disusun hingga mencapai tinggi satu meter dianggap sebagai ungkapan syukur terhadap Tuhan dan kiriman doa untuk keluarga-keluarga yang sudah tiada.

Meugang, Aceh

Suasana Meugang di Aceh. Foto: acehkini/Suparta

Meugang menjadi salah satu tradisi tahunan yang dilakukan oleh masyarakat Aceh sebelum memasuki Hari Raya Idulfitri maupun Iduladha. Tradisi ini lahir pada masa Kerajaan Aceh, yakni sekitar tahun 1607-1636 Masehi. Kala itu, Sultan Iskandar Muda memotong hewan dalam jumlah besar dan membagikan dagingnya kepada seluruh rakyat Aceh sebagai ungkapan rasa syukur dan tanda terima kasih kepada rakyatnya.

Meugang dilakukan dengan memasak daging dalam jumlah besar dan menyantapnya bersama keluarga, kerabat, dan anak yatim piatu. Daging-daging yang sudah dimasak juga kerap kali dibagikan ke masjid untuk dimakan oleh masyarakat, sehingga semua orang dapat merasakan kebahagiaan melalui sedekah dan kebersamaan.

Tumbilotohe, Gorontalo

Pelaksanaan Tumbilotohe di Gorontalo. Foto: kompas.com/Rosyif Azhar

Tradisi Tumbilotohe sudah ada sejak tahun 1525, yang merupakan tahun di mana Islam masuk dan menjadi agama resmi dari Kerajaan Gorontalo pada pemerintahan Sultan Amai. Tradisi yang digelar tiap malam ke-27 bulan Ramadan tersebut dilakukan dengan memasang obor secara bersama-sama sambil berjalan menuju masjid.

Obor yang digunakan dalam tradisi Tumbilotohe terbuat dari damar dan diberi sebutan ‘Tohetutu’. Kemudian Tohetutu ditancapkan di depan masjid serta jalanan-jalanan menuju masjid, sehingga menyinari jalan yang kerap dilalui warga ketika hendak menuju ke masjid.


Unik sekali bukan perayaan-perayaan yang dilakukan oleh umat Muslim di berbagai daerah dalam menyambut Idulfitri? Tradisi yang telah dilakukan secara turun-temurun ini perlu dilestarikan sebagai bentuk dari keragaman budaya masyarakat di Indonesia.

Meski pandemi telah membawa banyak perubahan dalam perayaan Ramadan, namun hal tersebut tidak menghalangi Sobat Atourin untuk tetap menjaga silahturahmi dengan keluarga dan kerabat. Gunakan aplikasi #AndalanBepergian Wego untuk pesan tiket pesawat dan hotel tanpa ribet dan aman. Jangan lupa untuk tetap jaga protokol saat bersilahturahmi ya, Sobat Atourin!