Berkunjung ke Yogyakarta pasti identik dengan kekayaan budaya yang dimilikinya. Tradisinya, tempat-tempat yang berbau budaya, pertunjukkan seni, hingga kulinernya yang tidak kalah menarik untuk dicicipi. Jadah tempe dan gudeg yang sudah melegenda dengan cita rasa manis gurih pasti tidak asing lagi dibenak Sobat Atourin. Tapi, pernahkan Sobat Atourin dengar tentang kue tradisional Kipo? Yuk kenalan sama kue tradisional yang satu ini.
Apa itu Kue Kipo?

Kue Kipo adalah jajanan tradisonal yang bisa Sobat Atourin temukan dengan mudah di Kotagede, Yogyakarta. Kue ini memiliki bentuk yang mungil, lonjong, pipih, dan berwarna hijau kecokelatan akibat proses pemanggangan. Camilan manis khas Jogja ini merupakan makanan favorit Sultan Agung, yang kini juga menjadi warisan tak benda. Kue ini berisikan enten-enten atau campuran parutan kelapa dan gula jawa.
Namanya yang unik merupakan akronim dari kalimat tanya dalam bahasa Jawa yaitu “Iki Opo?” yang artinya “Ini apa?”. Konon, pada waktu Mbah Mangun Irono, pembuat kipo, sedang berjualan di pasar, banyak pembeli yang menanyakan kepadanya “Iki opo?”. Karena ia juga tidak mengetahui nama jajanan yang ia jual, ia pun menjawab seadanya dengan menyebut jajanan ini adalah Kipo. Dari situ lah, jajanan mungil ini dikenal dengan nama Kipo.
Jejak Sejarah

Kue Kipo ini sudah ada sejak zaman kerajaan Mataram Kuno. Makanan ini sudah dikenal sejak abad ke-16 saat kerajaan Mataram berkuasa di Pulau Jawa. Para bangsawan menjadikannya kudapan favorit. Selain itu, konon katanya, kue ini merupakan makanan kegemaran Sultan Agung.
Namun, seiring runtuhnya pusat kekuasaan di Kotagede dan bergantinya zaman, jejak kue favorit para raja ini perlahan memudar. Kue Kipo sempat dinyatakan hilang keberadaannya di masyarakat Kotagede dan Yogyakarta hingga namanya benar-benar dilupakan.
Lama terkubur dalam sejarah, napas Kue Kipo kembali berembus pada tahun 1946 melalui tangan Mbah Mangun Irono. Beliau adalah seorang warga Kecamatan Kotagede yang tinggal di Kampung Mandorakan. Di tangan beliaulah, resep kuno yang nyaris punah ini diracik kembali dan diperkenalkan ulang kepada masyarakat.
Tahun terus berganti, hingga akhirnya keterbatasan usia membuat Mbah Mangun Irono memutuskan untuk mewariskan usaha produksi Kipo miliknya kepada sang anak, Ibu Paijem Djito Suhardjono. Di bawah naungan Ibu Paijem, kini, Kue Kipo bukan lagi sekadar “jajanan pasar”, melainkan ikon kuliner bersejarah yang layak dipandang dan dicari oleh siapa pun yang berkunjung ke Yogyakarta.
Tekstur dan Aroma yang Khas

Keistimewaan Kue Kipo bukan hanya terletak pada sejarahnya yang panjang, tetapi juga pada proses pembuatannya yang masih mempertahankan cara-cara lama. Berbeda dengan kue modern yang diproses menggunakan oven besar atau dikukus secara massal, Kipo menuntut ketelatenan manual di setiap butirnya.
Warna hijau mengkilap yang menjadi ciri khas Kipo tidak didapat dari pewarna kimia. Perajin Kipo masih setia menggunakan perasan daun suji dan daun pandan. Selain memberikan warna hijau yang cantik dan aman dikonsumsi, kombinasi kedua daun ini memberikan aroma harum alami yang langsung tercium saat kemasan daun pisangnya dibuka.
Adonan tepung ketan yang kenyal diisi dengan enten-enten—perpaduan manis antara parutan kelapa dan gula jawa—kemudian dipanggang di atas cobek tanah liat. Proses pemanggangan ini dilakukan dengan alas daun pisang di atas api yang terjaga. Hasilnya? Muncul aroma “sangit” atau aroma gosong alami yang khas. Sentuhan asap dari daun pisang yang terpanggang inilah yang meresap ke dalam kulit ketan, memberikan dimensi rasa gurih-asap yang unik dan tidak akan kamu temukan pada kue yang dikukus atau dipanggang dalam oven listrik.
Dengan proses pemanggangan tradisional tersebut, Kue Kipo memiliki perpaduan tekstur yang sempurna: bagian luar yang sedikit garing dan beraroma smoky, namun tetap sangat kenyal dan lembut di bagian dalam. Begitu digigit, lelehan manis dari gula jawa di dalamnya akan langsung lumer di mulut.