Agam, 9 Oktober 2026 — Desa wisata punya cara tersendiri untuk memperkenalkan kekayaan daerahnya. Di Desa Wisata Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, pengalaman tersebut hadir melalui kerajinan perak, sulaman dan renda, hingga kuliner khas Minangkabau yang masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.

Potensi tersebut menjadi bagian dari pengalaman Familiarization Trip (Famtrip) yang diselenggarakan oleh Atourin bersama Bank Indonesia pada Jumat, 9 Oktober 2026. Kegiatan ini mengajak peserta mengenal lebih dekat daya tarik Desa Wisata Koto Gadang melalui berbagai aktivitas budaya, kerajinan, dan kuliner lokal.

Kunjungan ini merupakan hari kedua dari rangkaian Famtrip Desa Wisata Ramah Muslim Unggulan di Sumatra Barat, setelah sebelumnya peserta mengunjungi Desa Wisata Sanjai di Kota Bukittinggi.

Menyusuri Kawasan Pusaka dan Mengenal Kerajinan Perak

Perjalanan di Koto Gadang dimulai dengan berkeliling kawasan pusaka menggunakan buggy. Peserta diajak menikmati suasana desa sekaligus mengenal lingkungan dan karakter kawasan yang menjadi bagian dari identitas Koto Gadang.

Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan mencoba kerajinan perak. Koto Gadang dikenal dengan kerajinan peraknya yang memiliki nilai seni dan keterampilan tersendiri. Melalui aktivitas ini, peserta berkesempatan mengenal lebih dekat proses kreatif di balik produk kerajinan yang menjadi salah satu potensi lokal desa.

Kerajinan perak tidak hanya menjadi produk yang dapat dibawa pulang sebagai oleh-oleh, tetapi juga bagian dari warisan keterampilan yang dapat diperkenalkan kepada wisatawan melalui pengalaman wisata berbasis budaya.

Mengenal Sulaman dan Renda Khas Koto Gadang

Selain kerajinan perak, peserta juga mengikuti aktivitas pengenalan kerajinan sulam dan renda.

Kegiatan ini memperlihatkan sisi lain dari kekayaan keterampilan masyarakat Koto Gadang. Ketelitian dan proses pengerjaan menjadi bagian menarik untuk dikenali, terutama bagi wisatawan yang ingin melihat lebih dekat kerajinan tradisional dan produk buatan tangan.

Pengalaman seperti ini memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk memahami bahwa daya tarik desa wisata tidak selalu berupa panorama alam. Keterampilan masyarakat dan produk budaya juga dapat menjadi alasan untuk berkunjung sekaligus mengenal karakter suatu daerah.

Belajar Membuat Gulai Itik Cabe Hijau dan Talamplang

Pengalaman di Desa Wisata Koto Gadang berlanjut melalui kegiatan pembuatan gulai itik cabe hijau dan talamplang.

Peserta diajak mengenal kuliner lokal melalui proses pengolahan makanan tradisional. Aktivitas ini memberikan pengalaman yang berbeda dari sekadar mencicipi hidangan karena peserta juga dapat melihat bagaimana makanan menjadi bagian dari budaya dan keseharian masyarakat.

Kuliner dapat menjadi salah satu cara untuk mengenal sebuah daerah. Bahan, cara memasak, hingga tradisi menyajikan makanan menghadirkan cerita tersendiri yang memperkaya pengalaman wisata.

Menikmati Tradisi Makan Bajamba

Setelah mengikuti berbagai aktivitas, peserta menikmati makan bajamba di Desa Wisata Koto Gadang.

Tradisi makan bajamba merupakan salah satu pengalaman bersantap bersama yang dikenal dalam budaya Minangkabau. Selain menikmati hidangan, peserta berkesempatan merasakan suasana kebersamaan dalam tradisi makan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.

Pengalaman ini sekaligus memperlihatkan bagaimana rumah warga dan tradisi lokal dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata yang lebih personal. Wisatawan tidak hanya datang sebagai pengunjung, tetapi juga berkesempatan mengenal budaya melalui interaksi yang lebih dekat dengan masyarakat.

Mengenal Potensi Wisata Budaya Desa Wisata Koto Gadang

Melalui Famtrip ini, peserta diajak melihat berbagai potensi yang dimiliki Desa Wisata Koto Gadang, mulai dari kawasan pusaka, kerajinan perak, sulaman dan renda, hingga kuliner tradisional Minangkabau.

Beragam aktivitas tersebut memperlihatkan bagaimana kekayaan budaya dan keterampilan masyarakat dapat dikembangkan menjadi pengalaman wisata yang menarik. Di sisi lain, keterlibatan pengrajin dan masyarakat lokal juga membuka peluang agar manfaat pariwisata dapat dirasakan lebih luas.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Desa Wisata Ramah Muslim Unggulan yang diselenggarakan oleh Atourin bersama Bank Indonesia di Sumatra Barat. Program ini turut melibatkan Desa Wisata Sanjai di Kota Bukittinggi dan Desa Wisata Kubu Gadang di Kota Padang Panjang.

Melalui pengenalan langsung terhadap potensi desa, diharapkan kekayaan budaya dan produk lokal dapat semakin dikenal oleh wisatawan serta mendukung pengembangan pariwisata berbasis masyarakat.

Dari kerajinan perak hingga makan bajamba, Desa Wisata Koto Gadang menawarkan pengalaman untuk mengenal Minangkabau lebih dekat, bukan hanya melalui apa yang dilihat, tetapi juga melalui keterampilan, cita rasa, dan tradisi yang diwariskan oleh masyarakatnya.